Iqra, Literasi Menurut Al-Quran

317

Hingga akhir tahun 1990-an, frasa literasi (bahasa Latin literatus, artinya orang yang belajar) masih menyangkut kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, paling utama membaca dan menulis. Namun, saat ini frasa literasi telah berkembang jauh. Literasi berhubungan dengan kemampuan dan ketrampilan seseorang dalam membaca, menulis, berhitung, memahami, berbicara, menggunakan, menganalisis, mentranformasi teks, dan seterusnya. Literasi juga memiliki banyak variasi, seperti literasi media, literasi komputer, literasi sains, literasi keuangan, dan sebagainya.

Frasa literasi berubah mengikuti perkembangan dan perubahan seiring dengan kebutuhan dan kepentingan manusia. Di jaman dahulu, seseorang yang bisa membaca dan menulis sudah menjadi orang penting di desa atau di kampung. Saat ini tidak sedikit kepala desa atau kepala kampung yang menyandang gelar sarjana. Itu berarti, literasi masyarakat di desa tidak lagi sekadar bisa membaca dan menulis, tetapi sudah sekelas atau setara sarjana.

Penemuan huruf dan angka hingga membaca, menulis, dan berhitung adalah pencapaian besar umat manusia. Karenanya kemajuan ilmu dan teknologi hingga kemakmuran suatu bangsa berhubungan dengan literasi bangsa tersebut. Bangsa yang maju dan makmur, biasanya mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, budaya baca yang tinggi, memroduksi bahan literasi yang tinggi (koran, majalah, buku), akses internet, serta maju ilmu dan teknologi.

Iqra Istilah Canggih

Islam adalah agama literasi sejak awal. Al-Quran mengenalkan literasi dengan istilah Iqra, artinya bacalah. Iqra adalah kata pertama dalam surah pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. Kata iqra dalam tata bahasa Arab adalah fiil amr yang berarti kata kerja perintah. Nabi Muhammad Saw yang disebut ummi (tidak bisa membaca dan menulis), tetapi menerima wahyu pertama berupa perintah untuk iqra, membaca. Berikut terjemahan lima ayat yang pertama diterima Nabi Muhammad Saw.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96/Al-Alaq: 1-5).

Kata iqra adalah istilah Al-Quran yang sangat canggih dan kompleks. Kata iqra terambil dari akar kata qarana yang berarti menghimpun, mengumpulkan, atau menggabungkan. Dan Al-Quran berarti kumpulan atau gabungan. Kata iqra berarti bacalah, sedangkan Al-Quran diartikan sebagai bacaan atau bacaan sempurna juga berakar kata yang sama dengan kata iqra.

Perintah iqra di dalam wahyu pertama ini tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam artian bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Alhasil, obyek perintah iqra mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya (Shibab, 1997).

Al-Quran mengenalkan iqra kepada bangsa Arab waktu itu yang sering disebut jahiliyah dengan bismi Rabbik. Bukan membaca sekadar mengeja huruf, menyambung, dan menghasilkan bunyi yang bermakna. Karena di masa sebelum kenabian, bangsa Arab telah mengenal budaya baca dan budaya tulis. Philip K. Hitti (2005) menyebut istilah jahiliyah yang biasanya diartikan sebagai masa kebodohan atau kehidupan bar-bar sebenarnya berarti bahwa ketika itu orang-orang Arab tidak memiliki otoritas hukum, nabi, dan kitab suci.

Surat Al-Alaq: 1-5 yang merupakan wahyu pertama ini juga adalah indikasi bahwa masyarakat Makkah telah akrab dengan budaya tulis dan budaya baca, walaupun terbatas. Bahan tulis menulis juga disebut di dalam Al-Quran. Kata raqq dalam QS. 52/At-Thûr: 3 mungkin mengacu pada sejenis kertas kulit atau parkamen yang terbuat dari kulit binatang. Kata qirthâs yang muncul dalam QS 6/Al-An-âm: 7 & 91, barangkali bermakna lontar, karena kata ini terambil dari bahasa Yunani chartês yang bermakna selembar atau sehelai lontar. Rujukan kedua kata qirthâs (QS.6:91) yang muncul dalam bentuk plural qarâthis bisa menyiratkan makna bahwa orang-orang Yahudi menggunakan lontar untuk menulis bagian-bagian terpisah Taurat. Sementara rujukan lainnya (QS.6:7) mungkin mengacu kepada sebuah kitab yang terbuat dari lontar. Sementara tinta dan pena sebagai alat tulis dirujuk dalam Al-Quran (QS. 96:4; QS. 31/Luqmân: 27; QS.18/Al-Kahf: 109). Kesemua rujukan tentang bahan-bahan untuk tulis menulis ini tidak mungkin muncul dalam ungkapan Al-Quran jika tidak dipahami masyarakat yang menjadi sasaran wahyunya (Taufik Adnan Amal, 2001).

Istilah iqra dalam Al-Quran sebagai perintah literasi dalam Islam adalah istilah yang sangat maju, mendahului apa yang telah dicapai masyarakat Arab saat itu. Al-Quran mempertegas dan menambah nilai pada budaya baca masyarakat Arab saat itu dengan mengenalkan Tuhan, bismi Rabbik. Perintah iqra adalah printah untuk mengenal Tuhan. Hanya orang-orang yang selalu ber-iqra yang mengenal Tuhan, yang dekat kepada Tuhan. Orang-orang yang ber-iqra adalah orang yang berilmu, dan orang bergama harus berilmu, itulah perintah pertama kepada Nabi Muhammad Saw.

Istilah iqra tidak hanya mencakup membaca, menulis, berhitung, mengenal, meneliti, dan menganalisis, tetapi juga mencakup menghimpun atau menggabungkan sehingga menjadi sesuatu yang baru, menghasilkan ilmu pengetahuan baru, dan berguna.

Perintah Berulang

Surah Al-Alaq mengulang kata iqra pada ayat pertama dan ketiga. Pengulangan perintah membaca ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (demi Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru (Shibab, 1997).

Perintah iqra berkelindan dengan menulis, karena menulis hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang membaca. Menuliskan iqra akan melahirkan bacaan baru, analisis baru, temuan baru, dan ilmu baru yang berguna bagi umat manusia. Membaca dan menulis akan mendorong semangat melakukan penelitian dan penelaahan terhadap ayat-ayat tertulis (kitabiyah), ayat-ayat semesta, ayat-ayat sejarah, dan ayat-ayat di dalam diri (Latif, 2019).

Perintah literasi atau iqra dalam Islam berpangkal pada bismi Rabbik atau Rabbani. Ini penting karena semangat iqra akan melahirkan dan mendorong pengembangan ilmu dan teknologi, yang harus berbasis pada ketuhanan dan kemanfaatannya bagi umat manusia. Jika tidak, ilmu dan teknologi hanya membawa bencana dan malapetakan bagi manusia, makhluk yang lain, dan bagi alam.

Pentingnya iqra bagi manusia, sampai kitab suci pun menamakan dirinya Al-Quran yang berarti bacaan, bacaan yang mulia. Al-Quran adalah kitab yang paling banyak dibaca di bumi ini, karena surah dan ayat terus dibaca ketika umat Islam melaksanakan sholat. Al-Quran adalah kitab yang dibaca oleh orang yang mengerti dan orang yang tidak mengerti. Al-Quran bisa membuat orang menangis ketika dia membaca atau mendengarkan orang lain yang membacanya, padahal baik si pembaca maupun di pendengar, kedua-duanya mungkin tidak paham maknanya. Ajaibkan!

Oleh : M. Ghufran H. Kordi K.(Pengamat Sosial)

Publisher : Helni Setyawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here