Diduga Aparatur Gampong Keude Birem Patok Sumbangan Maulid, Warga: Jangan Bebani yang Tak Mampu!
MetroNusantaraNews.com | Aceh Timur — Dugaan permintaan sumbangan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Keude Birem, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Pasalnya, sejumlah warga mengaku diminta menyediakan uang sebesar Rp50 ribu sekaligus 10 bungkus nasi kotak untuk pelaksanaan kegiatan Maulid Nabi di gampong tersebut.
Permintaan itu sontak memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah sumbangan benar-benar sukarela, atau sudah dipatok dengan nominal dan jumlah tertentu?
Warga menilai, jika benar permintaan tersebut berasal dari aparatur gampong, persoalan ini patut dipertanyakan secara terbuka. Sebab, kegiatan keagamaan semestinya menjadi momentum kebersamaan dan ibadah, bukan malah membuat warga yang ekonominya pas-pasan merasa tertekan.
“Kalau orang kaya mungkin tidak masalah. Tapi kalau masyarakat miskin, janda, atau warga yang penghasilannya pas-pasan, bagaimana? Rp50 ribu saja mungkin berat, apalagi ditambah 10 nasi kotak,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan kepada media ini, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, sumbangan seharusnya berdasarkan keikhlasan dan kemampuan masing-masing, bukan menjadi beban yang harus dipenuhi oleh seluruh warga.
“Kalau memang mampu, orang pasti mau membantu. Tapi jangan sampai orang yang tidak mampu merasa malu atau tertekan karena tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut. Maulid itu untuk mempererat silaturahmi, bukan membebani masyarakat,” tegasnya.
Warga Pertanyakan: Ada Musyawarah atau Tidak?
Tak hanya soal nominal, masyarakat juga mempertanyakan dasar munculnya angka Rp50 ribu dan kewajiban 10 nasi kotak tersebut.
Warga mengaku tidak mengetahui adanya musyawarah umum yang secara terbuka membahas dan menyepakati besaran sumbangan tersebut.
Jika memang telah ada keputusan bersama, warga meminta agar hal itu dapat dijelaskan secara transparan. Namun jika tidak pernah dimusyawarahkan, masyarakat mempertanyakan mengapa nominal tersebut seolah-olah ditentukan dan dibebankan kepada warga.
“Kalau memang hasil musyawarah, silakan dijelaskan kapan rapatnya, siapa yang hadir dan apa keputusannya. Jangan sampai masyarakat hanya menerima keputusan tanpa pernah diajak duduk bersama,” kata warga tersebut.
Jangan Jadikan Warga Kecil Korban Beban Kegiatan
Masyarakat berharap aparatur Gampong Keude Birem dapat lebih sensitif melihat kondisi ekonomi warganya.
Sebab, kemampuan setiap keluarga jelas berbeda. Ada warga yang memiliki usaha dan penghasilan cukup, namun tidak sedikit pula masyarakat yang hidup pas-pasan, termasuk janda dan keluarga kurang mampu.
Karena itu, warga meminta agar pengumpulan dana untuk kegiatan gampong dilakukan secara terbuka, transparan, sukarela, serta tidak memberatkan masyarakat.
“Jangan karena kegiatan Maulid, masyarakat yang tidak mampu akhirnya merasa terbebani. Kalau ada yang mau menyumbang Rp10 ribu, Rp20 ribu, Rp50 ribu atau lebih, itu seharusnya sesuai keikhlasan dan kemampuan,” ujarnya.
Keuchik Abdul Wahid Belum Berikan Klarifikasi
Media ini telah berupaya meminta klarifikasi kepada Keuchik Gampong Keude Birem, Abdul Wahid, terkait keluhan masyarakat tersebut.
Konfirmasi yang diminta mencakup dugaan permintaan sumbangan Rp50 ribu dan 10 nasi kotak, serta apakah sebelumnya telah dilakukan musyawarah bersama masyarakat terkait penetapan sumbangan tersebut.
Namun hingga berita ini diterbitkan, Abdul Wahid belum memberikan tanggapan. Pesan yang dikirim melalui WhatsApp belum mendapat balasan, sementara upaya menghubungi melalui sambungan telepon juga belum memperoleh respons.
Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan, media ini tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi Keuchik Abdul Wahid maupun aparatur Gampong Keude Birem untuk memberikan klarifikasi, bantahan, ataupun penjelasan terkait persoalan tersebut.
Publik kini menunggu kejelasan: apakah benar sumbangan tersebut dipatok, apakah ada hasil musyawarah yang menjadi dasar penetapan, atau terdapat penjelasan lain dari pihak aparatur gampong?
Satu hal yang menjadi perhatian warga: jangan sampai kegiatan yang seharusnya membawa keberkahan justru berubah menjadi beban bagi masyarakat kecil (FAHRID) Kaperwil Aceh

Rosnita pasaribu
