Lapor Pak Presiden! Aceh Usai Diterjang Banjir Kini Dihantam Krisis Listrik Berkepanjangan
MetroNusantaraNews.com, Aceh – Lapor Pak Presiden, setelah diguncang banjir besar yang merendam ribuan rumah dan melumpuhkan aktivitas masyarakat, kini Aceh kembali menghadapi persoalan serius: pemadaman listrik yang terjadi hampir di seluruh wilayah. Kondisi ini membuat warga semakin tertekan karena pemulihan pasca banjir menjadi jauh lebih sulit.
Sejumlah warga mengeluhkan bahwa aliran listrik di beberapa daerah masih belum menyala sejak banjir melanda. Ada wilayah yang sempat hidup sebentar, namun hanya bertahan sekitar satu jam sebelum kembali padam. Sementara kawasan lain tetap gelap gulita tanpa kepastian kapan akan pulih.
“Lapor Pak Presiden, Aceh masih gelap. Listrik hanya hidup satu jam, lalu mati lagi,” ujar warga di Kota Langsa yang sudah dua hari lebih mengalami pemadaman bergilir tanpa jadwal. Kondisi ini membuat masyarakat tidak dapat membersihkan rumah, mengeringkan perabot, ataupun mengisi ulang ponsel untuk berkomunikasi.
Pemadaman listrik ini memukul keras warga yang baru saja diterjang banjir. Banyak keluarga yang masih tinggal di rumah penuh lumpur dan membutuhkan listrik untuk mesin pompa air, penerangan, dan peralatan rumah tangga lainnya. Tanpa listrik, proses pemulihan menjadi tertunda dan menyulitkan.
Di beberapa posko pengungsian, kegelapan semakin memperburuk suasana. Warga mengaku kesulitan mengakses penerangan, sementara anak-anak dan lansia terpaksa bertahan di tengah kondisi minim cahaya. Beberapa posko bahkan tidak dapat mengoperasikan kipas angin dan fasilitas dasar lainnya.
Pelaku usaha kecil dan menengah juga terdampak. Banyak pedagang makanan dan jasa rumahan terpaksa menghentikan kegiatan karena alat produksi mereka bergantung pada listrik. Kerugian pun semakin menumpuk setelah sebelumnya usaha mereka juga terhenti akibat banjir.
Petugas di lapangan menjelaskan bahwa banyak gardu dan jaringan distribusi rusak karena terendam banjir. Beberapa titik masih sulit dijangkau karena jalan berlumpur dan material banjir yang belum dibersihkan. Hal ini membuat perbaikan memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Meski tim teknis terus bekerja, warga merasa informasi yang mereka terima minim dan tidak jelas. Tanpa jadwal pemulihan yang pasti, masyarakat kebingungan mengatur kebutuhan harian, terutama bagi keluarga yang memiliki anggota yang membutuhkan alat bantu kesehatan berbasis listrik.
Warga Aceh berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi ini. Pemadaman listrik yang berkepanjangan setelah bencana banjir dianggap sebagai situasi ganda yang melemahkan psikologi dan ekonomi masyarakat. “Kami mohon perhatian Pak Presiden, Aceh perlu bantuan cepat,” ungkap seorang warga dari Aceh Timur.
Hingga malam ini, sebagian besar masyarakat Aceh masih menanti kepastian pemulihan listrik menyeluruh. Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mempercepat proses penanganan agar kehidupan masyarakat dapat segera kembali normal setelah dua bencana beruntun yang mengguncang daerah tersebut.(FAHRID)

Rosnita pasaribu
