Kacau! Proyek Danantara Korban Banjir di Aceh Tamiang Justru Jadi Biang Kemacetan Puluhan Kilometer
MetroNusantaraNews.com, Aceh Tamiang – Antrean kendaraan akibat Proyek Danantara, yakni pembangunan penampungan sementara korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, semakin parah dan menuai keluhan luas dari masyarakat. Kemacetan panjang yang terjadi dilaporkan mencapai puluhan kilometer, sementara di lokasi proyek Danantara tersebut tidak terlihat adanya pengawas maupun petugas yang mengatur arus lalu lintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan kendaraan dari dua arah terjebak dalam antrean panjang hingga sekitar 20–30 kilometer akibat aktivitas Proyek Danantara tersebut. Arus lalu lintas nyaris lumpuh total, dengan kendaraan hanya bergerak beberapa meter dalam waktu berjam-jam.

Kondisi ini diperburuk oleh aktivitas kendaraan Proyek Danantara yang keluar-masuk menggunakan badan jalan utama. Truk bermuatan material dan alat berat kerap berhenti sembarangan, mempersempit jalur dan memicu penumpukan kendaraan dari kedua arah.
Ironisnya, di tengah kemacetan panjang yang ditimbulkan oleh Proyek Danantara, tidak terlihat satu pun pengawas proyek yang bertugas mengatur aktivitas kendaraan proyek di lapangan. Akibatnya, tidak ada pihak yang membuka jalur atau menghentikan sementara kendaraan proyek Danantara saat antrean semakin mengular.

Tak hanya itu, hingga kemacetan mencapai titik terparah akibat Proyek Danantara tersebut, tidak tampak kehadiran petugas kepolisian maupun Dinas Perhubungan dari Pemerintah Daerah Aceh Tamiang untuk mengatur lalu lintas. Pengendara terpaksa mengandalkan inisiatif sendiri untuk saling memberi jalan, namun upaya tersebut tidak berjalan efektif.
“Tidak ada polisi, tidak ada Dishub, semua dibiarkan macet begitu saja akibat proyek ini. Kami sudah berjam-jam terjebak di sini,” ujar salah satu sopir truk yang terhenti di antrean panjang di sekitar lokasi Proyek Danantara.
Situasi tersebut memicu kelelahan dan ketegangan di kalangan pengendara. Beberapa pengemudi mengaku kehabisan bahan bakar, sementara penumpang angkutan umum terlihat turun dari kendaraan untuk mencari udara segar akibat lamanya menunggu imbas kemacetan Proyek Danantara.

Para sopir angkutan barang dan bus antarkota mengeluhkan kerugian besar akibat keterlambatan yang ditimbulkan oleh Proyek Danantara tersebut. Selain mengganggu jadwal perjalanan, kemacetan panjang juga berdampak pada distribusi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat Aceh Tamiang.
Masyarakat menilai Proyek Danantara, yang sejatinya bertujuan kemanusiaan bagi korban banjir, seharusnya dilaksanakan dengan manajemen lapangan yang lebih baik. Kehadiran pengawas proyek, kepolisian, serta petugas Dishub dinilai mutlak diperlukan agar pelaksanaan proyek tidak justru mengorbankan kepentingan publik.
Hingga berita ini diturunkan, kemacetan panjang akibat Proyek Danantara masih terjadi di sekitar lokasi pembangunan penampungan korban banjir. Warga dan pengguna jalan mendesak Pemerintah Daerah Aceh Tamiang segera turun tangan menertibkan pelaksanaan proyek tersebut dan menempatkan petugas pengatur lalu lintas demi mengakhiri antrean kendaraan yang semakin memprihatinkan.(FAHRID) Kaperwil Aceh

Rosnita pasaribu
