Gunakan Perangkat Lunak Khusus, Praktisi Siber Buktikan Foto Ijazah Jokowi 99 Persen Asli
Polemik mengenai keaslian foto ijazah Presiden Joko Widodo mendapat tanggapan baru dari sudut pandang forensik digital. Seorang praktisi hukum dan siber, Budi Wahyono
JAKARTA – Polemik mengenai keaslian foto ijazah Presiden Joko Widodo mendapat tanggapan baru dari sudut pandang forensik digital. Seorang praktisi hukum dan siber, Budi Wahyono, mengungkapkan hasil analisis menggunakan perangkat lunak pendeteksi wajah tingkat lanjut yang menyimpulkan bahwa foto pada ijazah tersebut adalah otentik.
Pernyataan ini disampaikan Budi dalam sebuah siniar di kanal YouTube UNLOCKED MEDIA. Ia merespons klaim dari sejumlah pihak, termasuk pakar telematika Roy Suryo, yang sebelumnya meragukan keaslian foto tersebut.
Budi menjelaskan bahwa pengujian yang ia lakukan tidak menggunakan aplikasi pengenalan wajah publik seperti Facenet, melainkan perangkat lunak khusus bernama "KFIR". Ia mengklaim sistem ini memiliki spesifikasi setara dengan teknologi yang biasa digunakan oleh badan intelijen internasional untuk melacak individu yang sering mengubah penampilan.
"Kalau aplikasi publik seperti Facenet mendeteksi kemiripan secara global, KFIR ini mendeteksi hingga ke titik paling rinci. Dia membaca struktur fundamental seperti lekukan mata, pelipis, hingga mulut, yang kodenya tidak akan berubah meski seseorang bertambah usia atau melakukan operasi plastik," jelas Budi.
Dalam demonstrasinya, Budi membandingkan pasfoto ijazah yang dipersoalkan dengan foto wajah Joko Widodo saat ini. Hasil pemrosesan data biometrik tersebut menunjukkan tingkat kecocokan (Identity Confirm) mencapai 99 persen. Sistem tetap dapat mengenali struktur wajah secara presisi meskipun foto pembanding merupakan foto lama yang buram.
Lebih lanjut, Budi menyoroti kelemahan aplikasi pengenalan wajah biasa yang rentan dimanipulasi. Dalam sebuah uji coba komparatif, dua wajah berbeda yang digabungkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) berhasil menipu Facenet dengan hasil "cocok". Namun, saat foto manipulasi AI tersebut diuji menggunakan KFIR, sistem langsung mendeteksi anomali biometrik dan mengeluarkan hasil kecocokan 0 persen (Identity Mismatch).
Menurut Budi, hasil analitik yang kurang akurat dari aplikasi publik seperti Facenet inilah yang kemungkinan menjadi dasar keraguan sejumlah pihak mengenai foto ijazah tersebut. Apalagi, algoritma publik sering gagal mendeteksi wajah secara utuh apabila subjek menggunakan kacamata, topi, atau memiliki kumis.
Meski membawa temuan yang mematahkan klaim pihak-pihak yang meragukan ijazah tersebut, Budi menegaskan bahwa dirinya berposisi netral.
"Saya tidak membela Pak Jokowi dan tidak bermusuhan dengan pihak Pak Roy Suryo. Niat saya murni hanya untuk mengedukasi publik dan memberikan perspektif teknis dari teknologi yang saya miliki. Kalau memang diperlukan, saya siap dipertemukan untuk adu data dan buka-bukaan soal akurasi ini," pungkasnya.
Hadirnya perspektif forensik digital ini diharapkan dapat memberikan kejelasan teknis bagi publik dalam menyikapi isu terkait keaslian dokumen kenegaraan tersebut.

Kevin Apriansyah
